Kebebasan Beragama II

Ajaran Konsili Vatican II sungguh jelas. Gereja Roman Katolik TIDAK PERNAH dan tidak diperbolehkan memaksa sesiapa pun memeluk agama Kristian. Sebelum Vatican II, Gereja secara konsisten mengajar umatnya bahawa KEBEBASAN BERAGAMA adalah SALAH kerana ia dengan jelas menyimpang jauh daripada KEBENARAN. Manusia diwajibkan mencari KEBENARAN dan memeluk atau menerima kebenaran itu.

Anda tersilap apabila membangkit isu ‘paksaan dalam agama’? Tidak ada sesiapa yang dipaksa memeluk agama Kristian tetapi fikirkanlah secara mendalam: Adakah Allah tidak berhak menentukan agama umat ciptaan-Nya? Adakah KEPALSUAN (ERROR) juga mempunyai hak yang sama dengan TRUTH (Kebenaran)? Adakah Allah silap apabila memberikan 10 Hukum Allah kepada Musa? Adakah Allah tidak menghormati hak sipil umatnya?

Apakah kebebasan (freedom)? Fahaman mana yang benar: “manusia bebas memilih agamanya” atau “manusia itu mendapat kebebasan (freedom) kerana memeluk agama yang benar”? Tuhan Yesus berkata: Kebenaran akan membebaskan kalian. [Yohanes 8:32]. Tiada siapa yang mendapat kebebasan selagi belum menemukan kebenaran. Adakah anda mahu mengubah ajaran ini? Tidak pernah Yesus berkata: “Kalian bebas memeluk agama mengikut pilihan hatimu”.

Konsep ‘kebebasan beragama’ merupakan ajaran baru, hanya wujud selepas Konsili Vatican II. Perlu ditekankan di sini bahawa hanya ada SATU KEBENARAN. Hanya Gereja Roman Katolik yang mengajar doktrin dan dogma yang BENAR. Mari kita lihat definisi IMAN :

Iman ialah penerimaan penuh segala kebenaran yang didedahkan oleh Allah kepada manusia seperti mana ia diajar oleh Gereja.

Sebagai umat Kristian, kita percaya bahawa agama Kristian adalah agama yang benar dan Gereja yang benar ialah Gereja Roman Katolik. Kita yakin akan hal ini 100%. Sebab itu, Gereja mengajar bahawa Allah tidak pernah membenarkan umat ciptaannya menyembah allah lain. Adakah anda mahu mempertahankan hak sipil seorang manusia yang mahu menyembah Iblis aka Syaitan sebagai tuhannya? Jawablah soalan ini dengan jujur dan dalam kebenaran.

Mana mungkin Gereja mengajar dengan yakin bahawa “manusia bebas beragama” dan kemudian menarik balik ajarannya dengan berkata bahawa manusia tidak bebas memeluk agama yang disukainya? Ini satu kontradiksi yang hebat dan amat mengelirukan. Ajaran Gereja sebelum Vatican II amat jelas (sejak 2000 tahun yang lalu): MANUSIA TIDAK BEBAS BERAGAMA DAN WAJIB MENYEMBAH ALLAH YANG BENAR SAHAJA sedangkan Konsili Vatican II pula mengajar sejak tahun 1970an (ajaran baru) bahawa (saya petik daripada kenyataan anda): MANUSIA BEBAS BERAGAMA TETAPI TIDAK PERNAH BERARTI BAHWA ORANG SECARA MORAL BEBAS MEMILIH AGAMA YANG DISUKAINYA. SECARA MORAL ORANG WAJIB MENYEMBAH ALLAH MENURUT CARA YANG DIKEHENDAKI OLEH ALLAH SAJA. Antara dua ajaran (doktrin) ini: yang manakah satukah BENAR? Dari mana datangnya ‘MORAL’ yang anda maksudkan? Bukankah anda baru sahaja mengatakan bahawa MANUSIA BEBAS BERAGAMA TETAPI PADA MASA YANG SAMA BERKATA BAHAWA SECARA MORAL MANUSIA TIDAK BEBAS BERAGAMA?

Bukan semudah itu kita berkata MANUSIA BEBAS BERAGAMA tetapi pada masa yang sama menidakkannya atas alasan MORAL semata-mata! Diingatkan di sini bahawa Vatican II telah merosakkan kesatuan NEGARA DENGAN AGAMA (state and religion). Pre-Vatican II mengatakan dengan jelas bahawa STATE DAN RELIGION adalah satu entiti tetapi Vatican II mengatakan bahawa STATE dengan RELIGION HARUS DIPISAHKAN! Susulan daripada fahaman ini maka lahirlah ajaran baru bahawa manusia bebas beragama. Sebab itulah maka negara-negara yang asalnya Negara Katolik telah membenarkan tokong, kuil dan masjid dibina di merata-rata tempat selaras dengan ajaran Konsili Vatican II.

Saya juga mahu menarik perhatian anda tentang, saya petik dari Katekismus Gereja Roman Katolik:

We believe that this one true religion subsists in the Catholic and Apostolic Church, to which the Lord Jesus committed the duty of spreading it abroad among all men. [Dignitatis Humanae, art 1]

Ayat ini berbau heretical kerana ia mengatakan bahawa “one true religion subsists in the Catholic and Apostolic Church”. Kebenarannya ialah The Catholic Church IS the true religion. The true religion IS the Catholic Church. Silalah merujuk makna ‘subsist‘ dalam kamus English anda sendiri. Anda tentu akan terkejut!

Jika anda sendiri tidak yakin bahawa “Gereja Katolik adalah agama yang benar dan agama yang benar ialah Gereja Katolik” maka anda bukan beragama Katolik atau anda percaya bahawa semua agama ‘sama benar’ atau ‘berkongsi benar’ atau ‘semua agama sama saja tarafnya’ atau anda kemungkinan juga percaya bahawa agama yang berbeza-beza itu merupakan ‘ciptaan’ Tuhan!

Sekali lagi saya merujuk kepada kenyataan anda sendiri: “Dalam hal ini yang dimaksudkan adalah orang tidak boleh dipaksa untuk mengikuti keputusan yang bertentangan dengan hati nuraninya.” Apakah maksud ‘hati nurani’ atau ‘suara hati’ atau ‘conscience’? Adakah ‘hati nurani’ mengatasi Firman Allah / Kebenaran? Seseorang manusia hanya boleh bertindak mengikut hati nalurinya jika hati nalurinya dipimpin oleh kebenaran atau Firman Allah. Ingat, Iblis juga boleh bersuara dalam hati nurani manusia! Ajaran anda boleh menyesatkan banyak orang terutama yang belum mengenali Yesus.

Akhir kata: There are many ERRORS but ONE TRUTH. The TRUTH can only be found in the Catholic Church.

Terpujilah Kristus Yesus, Raja segala raja.


  1. Daniel

    Ketika Anda menuduh bahwa saya khilaf mencampuradukkan isu “kebebasan beragama” dan “tidak ada paksaan beragama”, saya menjawab bahwa saya sama sekali tidak khilaf. Saya mengikuti apa yang diajarkan oleh Konsili Vatikan II dalam Dignitatis Humanae art 2.

    “Konsili vatikan ini menyatakan, bahwa pribadi manusia berhak atas kebebasan beragama. Kebebasan itu berarti, bahwa semua orang harus kebal terhadap paksaan dari pihak orang-orang perorangan maupun kelompok-kelompok sosial atau kuasa manusiawi mana pun juga, sedemikian rupa, sehingga dalam hal keagamaan tak seorang pun dipaksa untuk bertindak melawan suara hatinya, atau dihalang-halangi untuk dalam batas-batas yang wajar bertindak menurut suara hatinya, baik sebagai perorangan maupun dimuka umum, baik sendiri maupun bersama dengan orang-orang lain. Selain itu Konsili menyatakan, bahwa hak menyatakan kebebasan beragama sungguh didasarkan pada martabat pribadi manusia, sebagaimana dikenal berkat sabda Allah yang diwahyukan dan dengan akal-budi[[2]]. Hak pribadi manusia atas kebebasan beragama harus diakui dalam tata hukum masyarakat sedemikian rupa, sehingga menjadi hak sipil.”

    Di sini jelas sekali bahwa tidak ada pertentangan antara ajaran Gereja pra-Vatikan II dan apa yang diajarkan oleh Konsili Vatikan II.

    Saya akan menanggapi pernyataan Anda:
    “Anda tersilap apabila membangkit isu ‘paksaan dalam agama’? Tidak ada sesiapa yang dipaksa memeluk agama Kristian tetapi fikirkanlah secara mendalam: Adakah Allah tidak berhak menentukan agama umat ciptaan-Nya? Adakah KEPALSUAN (ERROR) juga mempunyai hak yang sama dengan TRUTH (Kebenaran)? Adakah Allah silap apabila memberikan 10 Hukum Allah kepada Musa? Adakah Allah tidak menghormati hak sipil umatnya?”

    Pertama, Anda telah menyatakan bahwa “tiada sesiapa yang dipaksa memeluk agama kristian” ini adalah kebebasan beragama yang diizinkan oleh Vatikan II dan Anda menyetujuinya, maka saya pun setuju. Bagian kedua dari kalimat Anda merupakan persetujuan terhadap ajaran Konsili Vatikan II bahwa adanya kebebasan beragama tidak menghapuskan kewajiban moral manusia untuk menyembah satu-satunya Allah yang benar (Tritunggal Mahakudus) . Dengan kata lain bagi Konsili Vatikan II kebebasan manusia untuk beragama tetap memiliki konsekuensi moral bahwa mereka yang dalam kebebasannya itu lalai untuk menyembah Allah yang benar dan memeluk agama yang benar akan binasa.

    Contoh yang Anda gunakan mengenai 10 Perintah Allah jelas menunjukkan bahwa Konsili Vatikan II itu benar karena Allah sendiri memberi kebebasan kepada umat-Nya apakah mereka mau mengikuti hukum Allah dan berbahagia bersama-Nya atau menolak hukum Allah dan dengan sendirinya berada dalam kutuk terpisah dari Allah.

    Saya harap Anda berkenan untuk membaca dua artikel ini
    http://www.rtforum.org/lt/lt9.html#II
    dan
    http://www.catholic.net/rcc/Periodicals/Dossier/00MarApr/continuity.html

    Prinsipnya apa yang Anda anggap sebagai heresy dari Konsili Vatikan II adalah tidak pernah ada karena heresy itu adalah khayalan Anda saja dan bukan ajaran Konsili Vatikan II.

    Saya berharap Anda tidak terlebih dahulu memperlebar diskusi kita ke arah hubungan negara dan Gereja.

    Kedua, mengenai subsistit in. Saya heran sekali mengapa Anda meminta saya men-check kamus bahasa Inggris dan bukannya saya meminta untuk men-check ke dalam Kamus bahasa Latin.

    Dan terus terang saya tidak terkejut sama sekali karena kata subsistit in diartikan oleh Konggregasi Ajaran Iman bahwa Konsili menggunakan kata subsistit in untuk menjelaskan bahwa hanya ada satu subsistensi dari Gereja sejati (yaitu Gereja Katolik), dan bahwa diluar struktur nya yang terlihat hanya ada elementa ecclesiae yaitu elemen-elemen dari Gereja sejati itu yang berasal dari Gereja Katolik dan menuntun kepadanya (Congregation for the Doctrine of the Faith, Notification on the Book “Church: Charism and Power” by Father Leonardo Boff: AAS 77 [1985], 756-762).

    Dan jangan lupa juga bahwa “est” masih dipakai oleh Konsili Vatikan II dalam Orientalum Ecclesiorum art 2. Kedua ungkapan ini baik “est” maupun “subsistit in” jika digunakan dalam konteks yang benar merupakan ungkapan yang tepat dari iman Katolik yang sejati.

    Hanya saja banyak orang para liberal dan modernis di satu pihak dan tradisionalis ekstrim di lain pihak berusaha mempertentangkannya.

  2. author

    Encyclicals yang bertajuk Mystici Corporis Christi oleh Pope Pius XII dengan nyata menjelaskan bahawa satu Gereja yang benar ialah Gereja Kristus iaitu Gereja Roman Katolik. Gereja Roman Katolik ialah Gereja Kristus yang satu dan benar. Apabila Konsili Vatican II mendefinisikan Gereja Benar sebagai ‘subsists in’ (yang bermakna: wujud dalam atau terkandung dalam) Gereja Roman Katolik, ia membawa implikasi bahawa gereja-gereja bukan Katolik (Prostestan) juga secara ‘kabur’ tergolong dalam Gereja Kristus yang benar. Persoalan besar di sini ialah apakah tujuan atau justifikasi bagi Konsili Vatican II menggunakan perkataan ‘subsists in’ apabila menakrifkan semula Gereja yang satu dan benar? Pautan http://www.franciscan-archive.org/apologetica/subsist.html menerangkan dengan lebih teliti tentang maksud “subsists in” dan kenapa penggunaan ‘subsist in’ tidak dapat dipertahankan oleh Vatican II.

    Susulan daripada takrifan ini, maka wujud pula ecumenism yang membawa kepada KESATUAN (unity) palsu (atau kepura-puraan) di antara Gereja Roman Katolik dengan gereja-gereja bukan Katolik (gereja palsu) tanpa mewajibkan para heretic (umat Protestan) ini bertaubat dan kembali ke pangkuan Gereja Roman Katolik. Dengan kata lain, Konsili Vatican II berkeinginan mahu mewujudkan satu Gereja ‘benar’ yang terdiri daripada Gereja Roman Katolik dan gereja-gereja bukan Katolik. Ini BERTENTANGAN dengan ajaran Alkitab dan ajaran Gereja pra-Vatican II seperti yang tercatat dalam dokumen Mortalium Animos (Pope Pius XI, 1928) dan Humani Generis (Pope Pius XII, 1950). Uskup di tempat saya menyarankan agar umat Katolik turut serta dalam sesi doa dengan umat Protestan tetapi apabila umat Katolik Traditionalist menghadiri Misa Kudus Tridentine (100% bercirikan Katolik), mereka pula dipersalahkan!

    Dokumen Dignitatis Humanae (Pope Paul VI, 1965) terkandung ajaran sesat tentang KEBEBASAN BERAGAMA yang bertentangan dengan ajaran Gereja Pra-Vatican II Quanta Cura (Pope Pius IX, 1864) dan Syllabus of Errors (Pope Pius IX). Agak menarik dicatatkan di sini bahawa 2,308 orang Uskup menyokong dokumen Dignitatis Humanae manakala 70 orang lagi menentang.

    Every man is free to embrace and profess that religion which, guided by the light of reason, he shall consider true. – CONDEMNED

    “liberty of conscience and worship is each man’s personal right, which ought to be legally proclaimed and asserted in every rightly constituted society; and that a right resides in the citizens to an absolute liberty, which should be restrained by no authority whether ecclesiastical or civil, whereby they may be able openly and publicly to manifest and declare any of their ideas whatever, either by word of mouth, by the press, or in any other way.” (section 3) – CONDEMNED

    Encyclical Testem Benevolentiae (Pope Leo XIII, 1899) dikeluarkan untuk menentang heresy Americanism yang mengagung-agungkan KEBEBASAN INDIVIDU (CIVIL LIBERTIES) yang tidak serasi dengan doktrin Gereja. Salah satu kebebasan individu ialah kebebasan beragama.

    Mirari vos (On Liberalism and Religious Indifferentism) Pope Gregory XVI, 1832 menyatakan bahawa Kebebasan Beragama adalah sesuatu yang tidak masuk akal (absurd):

    14. This shameful font of indifferentism gives rise to that absurd and erroneous proposition which claims that liberty of conscience must be maintained for everyone. It spreads ruin in sacred and civil affairs, though some repeat over and over again with the greatest impudence that some advantage accrues to religion from it.

    Encyclical Libertas (On the Nature of Human Liberty) Pope Leo XIII, 1888 juga menentang KEBEBASAN BERAGAMA:

    42. From what has been said it follows that it is quite unlawful to demand, to defend, or to grant unconditional freedom of thought, of speech, or writing, or of worship, as if these were so many rights given by nature to man. For, if nature had really granted them, it would be lawful to refuse obedience to God, and there would be no restraint on human liberty. It likewise follows that freedom in these things may be tolerated wherever there is just cause, but only with such moderation as will prevent its degenerating into license and excess. And, where such liberties are in use, men should employ them in doing good, and should estimate them as the Church does; for liberty is to be regarded as legitimate in so far only as it affords greater facility for doing good, but no farther. (Emphasis mine)

    Gereja pra-Vatican II mengajar bahawa ‘error has no right’ tetapi membenarkan agama lain diamalkan oleh umat bukan Katolik secara private (iaitu di dalam rumah sahaja) atas dasar bertolak ansur tetapi tidak secara terbuka (public). Orang-orang bukan Katolik juga tidak dibenarkan menyebarkan agama mereka di kalangan umat Katolik dan larangan ini dikuatkuasakan oleh Kerajaan (State).

    Kebebasan beragama ditakrifkan sebagai hak seseorang untuk memeluk agama pilihannya dan BUKAN bermaksud tiada paksaan dalam agama. Walaupun Gereja pra-Vatican II menolak doktrin ‘kebebasan beragama’ tetapi Gereja tidak memaksa sesiapa memeluk agama Katolik. Tidak ada sesiapa yang dipaksa memeluk agama yang tidak dipercayainya tetapi mereka tidak berhak (tidak bebas) untuk menyembah allah palsu (memeluk agama lain selain agama Katolik) kecuali secara private sahaja. Pernahkah anda terbaca dalam Alkitab bahawa manusia bebas menyembah allah yang ‘disukainya’? Adakah Alkitab hanya dikhaskan untuk umat Katolik sahaja? Adakah Hukum Allah hanya wajib dipatuhi oleh umat Katolik sahaja?

    Memeluk agama lain selain agama Katolik adalah penyembahan allah palsu. Ini merupakan pelanggaran Sepuluh Hukum Allah yang pertama dan ini merupakan satu dosa. Tidak dapat kita pertikaikan bahawa mencuri itu adalah dosa yang melanggar Hukum Allah yang kelapan. Tetapi adakah seseorang manusia itu berhak atau bebas mencuri atas sebab-sebab tertentu (misalnya kerana miskin atau tidak mampu atau kerana orang lain lebih berharta dan tidak akan terjejas hartanya jika sedikit hartanya dicuri). Secara ringkas, adakah Gereja mengajar manusia berhak (atau bebas) melanggar mana-mana Hukum Allah? Dari sudut lain pula, adakah Allah mempunyai apa-apa hak untuk menuntut umat ciptaan-Nya menyembah Dia seorang sahaja?

    Bagaimana dengan orang lain yang menyembah Iblis sebagai allahnya dan mengajar orang supaya berbakti kepada Iblis? Adakah orang ini berhak menyebarkan agama yang dahsyat ini? Umat yang menyembah allah palsu akan kehilangan jiwanya – maut (tidak ada keselamatan). Adakah kita akan mempertahankan hak orang itu untuk membunuh jiwanya (bunuh diri)? Adakah seseorang insan mempunyai hak membunuh dirinya sendiri sama ada secara fizikal atau rohani? Menyatakan kepada seseorang bahawa “awak bebas beragama” adalah sama dengan “awak berhak melakukan dosa”.

    Seseorang yang percaya kepada ‘kebebasan beragama’ sebenarnya tidak memiliki kebenaran atau hanya percaya kepada kebenaran yang bersifat relatif atau subjektif. Gereja tidak pernah gagal mengajar bahawa KEBENARAN itu MUTLAK. Hanya ada SATU kebenaran dan kebenaran itu absolute (mutlak) sifatnya. Beranikah kita berkata bahawa: “Anda bebas beragama tetapi jika anda tidak memeluk agama Katolik (menerima KEBENARAN) maka anda jatuh ke dalam dosa (tidak memperoleh KEBEBASAN) dan akan kehilangan jiwa (tidak memperoleh KESELAMATAN)”. Gereja Vatican II tidak lagi berani menyebarkan kebenaran mutlak bahawa Gereja Roman Katolik adalah satu-satunya Gereja yang benar dan agama yang benar. Sebalik Konsili Vatican II lebih cenderung menganggap bahawa semua agama adalah sama (menyembah allah yang sama) dan menyebarkan doktrin “universal salvation” yang bersifat heretical. Sekali lagi saya tekankan di sini bahawa “error has no right”.

    Malah, mendiang Mother Teresa juga berpendapat demikian dalam pelayanannya. Dalam buku karangan Mother Teresa, Life in the Spirit: Reflections, Meditations and Prayers, beliau berkata:

    “We never try to convert those who receive [aid from Missionaries of Charity] to Christianity but in our work we bear witness to the love of God’s presence and if Catholics, Protestants, Buddhists, or agnostics become for this better men — simply better — we will be satisfied. It matters to the individual what church he belongs to. If that individual thinks and believes that this is the only way to God for her or him, this is the way God comes into their life — his life. If he does not know any other way and if he has no doubt so that he does not need to search then this is his way to salvation.” (Pages 81-82)

    “I’ve always said we should help a Hindu become a better Hindu, a Muslim become a better Muslim, a Catholic become a better Catholic” (Page 31).

    Mother Teresa juga dilaporkan berkata:

    “I love all religions. … If people become better Hindus, better Muslims, better Buddhists by our acts of love, then there is something else growing there.” [On another occasion, she again demonstrated her false gospel that ‘there are many ways to God’: “All is God — Buddhists, Hindus, Christians, etc., all have access to the same God.”] (Majalah Time, 12/4/1989 m/s. 11,13)

    “If in coming face to face with God we accept Him in our lives, then we are converting. We become a better Hindu, a better Muslim, a better Catholic, a better whatever we are. … What God is in your mind you must accept” (Dipetik daripada Mother Teresa: Her People and Her Work, oleh Desmond Doig, m/s 156).

    Saya memetik kenyataan anda:

    Contoh yang Anda gunakan mengenai 10 Perintah Allah jelas menunjukkan bahwa Konsili Vatikan II itu benar karena Allah sendiri memberi kebebasan kepada umat-Nya apakah mereka mau mengikuti hukum Allah dan berbahagia bersama-Nya atau menolak hukum Allah dan dengan sendirinya berada dalam kutuk terpisah dari Allah.

    Tunjukkan dalam ayat Alkitab atau mana-mana dokumen rasmi Gereja Pra-Vatican II bahawa Allah memberi manusia kebebasan (atau HAK) untuk menolak Hukum Allah. Hanya ajaran Konsili Vatican II yang memperakukan hak Iblis.




Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s


  • Laman

  • Artikel Terkini

  • Artikel Popular

  • Kategori

  • Sila masukkan alamat e-mel anda untuk melanggan blog ini dan menerima pemberitahuan melalui e-mel apabila ada artikel baru diterbitkan.

    Join 50 other followers


%d bloggers like this: